Minggu, 23 September 2012


Minggu, 23 September 2012

TNI AL Pesan Dua Unit Kapal Tunda PT. PAL Indonesia

TNI Angkatan Laut memesan dua Kapal Tunda Samudera kepada PT PAL Indonesia (Persero). Sebagai tanda dimulainya pembangunan kapal tersebut diselenggarakan Keel Laying yang disaksikan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Soeparno di Bengkel Assembly CBL, Divisi Kapal Niaga, PT PAL Indonesia (Persero), Surabaya, Jumat (21/9).

img : defense-studies.blogspot.com

Kapal ini merupakan kapal kedua dari dua unit kapal tunda 2400 HP yang dipesan oleh TNI Angkatan Laut berdasarkan surat perjanjian jual beli nomor: KTR/1055/02-48/XII/2011/Disadal. Kontrak jual beli ini efektif berlaku sejak tanggal 20 Desember 2011 lalu, antara PT PAL Indonesia (Persero) dengan TNI Angkatan Laut dalam hal ini Dinas Pengadaan Angkatan Laut (Disadal) dan sesuai rencana akan diserahkan bulan Juni 2013.

Kapal tunda yang diawaki 10 personel ABK tersebut, memiliki ukuran panjang keseluruhan 29.00 meter, panjang garis air 26.50 meter, lebar 9.00 meter, tinggi sampai geladak utama 4.50 meter, sarat air desain 3.50 meter, tinggi ruang akomodasi 2.50 meter, dan memiliki bollard pull (daya tarik) pada daya maximum motor pokok (100 % MCR) sekitar 30 ton pada kondisi sarat desain.  Kecepatan normal operasi (free running) 100% MCR pada sarat kondisi muatan 50% adalah 12 knot, pada perairan dalam dan tenang serta kondisi cuaca tidak melebihi skala Beaufort 2. Kecepatan menunda ≥ 5 knot.

Taukah Anda, Siapa Perancang Lambang Garuda Pancasila.?

Siapa tak kenal lambang burung Garuda berkalung perisai yang merangkum lima sila (Pancasila). Tapi orang Indonesia mana sajakah yang tahu, siapa pembuat lambang negara itu dulu? Dia adalah Sultan Hamid II, yang terlahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung Sultan Pontianak; Sultan Syarif Muhammad Alkadrie. Lahir di Pontianak tanggal 12 Juli 1913.

Lambang Garuda Pancasila + Merah Putih

Dalam tubuhnya mengalir darah Indonesia, Arab –walau pernah diurus ibu asuh berkebangsaan Inggris. Istri beliau seorang perempuan Belanda yang kemudian melahirkan dua anak –keduanya sekarang di Negeri Belanda.

Syarif Abdul Hamid Alkadrie menempuh pendidikan ELS di Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. HBS di Bandung satu tahun, THS Bandung tidak tamat, kemudian KMA di Breda, Negeri Belanda hingga tamat dan meraih pangkat letnan pada kesatuan tentara Hindia Belanda.

Sabtu, 22 September 2012

Perlukah Indonesia Membeli Heli Tempur Apache dari AS..?

Kerjasama keamanan Indonesia dan AS menciptakan terobosan baru. Washington menawarkan Jakarta untuk membeli sejumlah unit helikopter tempur Apache, yang tidak lagi mereka pakai. Langkah AS ini terkait dengan kebijakan Indonesia yang tengah meremajakan alat utama sistem persenjataan (alutsista).

Aphace AH-64D seri Longbow / Blok III

Menurut kantor berita Reuters, rencana penjualan itu dikemukakan Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton, kepada Menlu RI Marty Natalegawa di Washington DC pada Kamis siang waktu setempat (Jumat pagi WIB). Kedua menteri bertemu untuk pertemuan kali ketiga Komisi Bersama AS-Indonesia, yang membahas perkembangan kemitraan komprehensif bilateral.

Kepada wartawan, Menlu Clinton mengatakan bahwa Kongres telah diberitahu perihal rencana pemerintahnya menjual helikopter tempur Apache ke Indonesia. "Persetujuan ini akan memperkuat kemitraan komprehensif dan membantu meningkatkan keamanan di kawasan," kata Clinton.

TU-16 Pesawat Super Bomber TNI-AU Tempo Dulu

Bila predikat Angkatan Udara terkuat di Asia Tenggara kini di pegang oleh Singapura, maka di era tahun 60-an kekuatan angkatan udara negeri kita boleh dibilang menjadi “singa”, tak cuma di Asia Tenggara, bahkan di kawasan Asia TNI-AU kala itu sangat diperhitungkan. Bahkan Cina maupun Australia belum punya armada pembom strategis bermesin jet. Sampai awal tahun 60-an hanya Amerika yang memiliki pembom semacam(B-58 Hustler), Inggris (V bomber-nya, Vulcan, Victor, serta Valiant) dan Rusia.

Era Tahun 60-an AURI / TNI AU memiliki 24 Pesawat Bomber TU-16
Era Tahun 60-an AURI / TNI AU memiliki 24 Pesawat Bomber TU-16
(all images : http://irwan.net)
 
Gelar “singa” tentu bukan tanpa alasan, di awal tahun 60-an TNI-AU sudah memiliki arsenal pembom tempur mutakhir (dimasanya-red) Tu-16, yang punya daya jelajah cukup jauh, dan mampu membawa muatan bom dalam jumlah besar. Pembelian Tu-16 AURI didasari, terbatasnya kemampuan B-25, embargo suku cadang dari Amerika, dan untuk memuaskan ambisi politik.

Sisa - Sisa Kejayaan KRI Irian 201

Ada rasa bangga sekaligus sedih bila mendengar tentang KRI Irian, kapal penjelajah kelas Sverdlov buatan Uni Soviet yang pernah membuat Angkatan Laut RI begitu berjaya di masa lalu. Bangga karena hanya Indonesia, satu-satunya negara di Asia Tenggara yang pernah mencicipi punya kapal penjelajah. Bahkan berkat kedigdayaan KRI Irian, Belanda jadi tunduk untuk menyerahkan Irian Barat.

Sisa - Sisa Kejayaan KRI Irian 201


Tapi sedihnya, seolah tak ada wujud KRI Irian yang bisa dilihat oleh generasi muda saat ini. Karena ukuran yang super besar (panjang 210 meter dan berbobot kosong 13.600 ton), opsi untuk menjadikan museum apung terpinggirkan karena biaya yang besar. Akhir masa pengabdiannya pun terus diselimuti misteri hingga kini. Publik di Indonesia kini hanya bisa melihat jejak sejarah KRI Irian lewat foto-foto hitam putih.  Kalau pun ada wujud penjelajah kelas Sverdlov dalam museum apung, hanya bisa dinikmati dengan biaya mahal, karena adanya di Rusia.


Dua Howitzer Caesar 155 mm Tiba di Indonesia

Dua howitzer tipe truck mounted berkaliber 155mm tiba di bandara Halim Perdana Kusumah,  jakarta diangkut dengan pesawat Rusia tipe Il-76. Howitzer Caesar buatan Nexter Prancis ini digolongkan sebagai Self Propelled Howitzer/howitzer yang dapat bergerak sendiri dengan bentuk yang lebih inovatif dibandingkan howitzer jenis tersebut yang sebelumnya menggunakan roda rantai (tracked).

Howitzer Caesar 155 mm
Howitzer Caesar 155mm buatan Nexter Prancis (all photos : ARC)


Sejalan dengan percepatan modernisasi TNI, maka Angkatan Darat direncanakan mendapatkan  dua batalion howitzer Caesar ini. Satu batalion Artileri Medan terdiri dari 3 baterai, dimana 1 baterai terdiri dari 6 meriam, dengan demikian jumlah howitzer Caesar untuk TNI AD akan mencapai jumlah 36 unit.

Saat ini TNI AD memiliki 2 batalion howitzer gerak sendiri, masing-masing adalah Yon Armed 7/105 GS di Cikiwul Bekasi (Kodam Jaya), dan Yon Armed 5/105GS Cimahi Jawa Barat (Kodam Siliwangi). Howitzer yang digunakan adalah AMX Mk-61 eks Belanda berjumlah 50 unit yang diperoleh pada akhir 1970-an hingga tahun 1982. Howitzer beroda rantai dengan berat 13,7 ton ini memiliki meriam kaliber 105mm.

Pangdam VII: Terorisme Masalah Krusial yang Mesti Disikapi

Panglima Kodam (Pangdam) VII Wirabuana, Mayor Jenderal TNI Drs Muhammad Nizam mengemukakan, pergerakan terorisme menjadi masalah krusial yang mesti disikapi secara bijak karena menjadi ancaman serius yang dapat merusak tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.



"Cara efektif yang harus dilakukan adalah melakukan deteksi dini untuk mempersempit pergerakan teroris yang akhir-akhir ini kembali marak terjadi di kota-kota besar di Indonesia," katanya di Mamuju, Jum`at.

Menurutnya, pergerakan teroriseme akhir-akhir ini menjadi topik utama untuk menjadi perhatian seluruh komponem anak bangsa.

"Terorisme bukan hanya musuh bangsa Indonesia tetapi sudah menjadi musuh seluruh bangsa di dunia ini," kata dia.

Terorisme, kata dia, telah memiliki jaringan internasional yang terorganisir dengan melakukan perencanaan yang telah tersusun begitu rapi dalam melakukan teror di mana-mana sehingga patut diwaspadai.

Iklan Google

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
free counters